JURNAL GLOBAL – BYD, produsen kendaraan listrik terbesar di Tiongkok, melampaui Tesla dari Amerika Serikat dalam pendapatan kuartalan untuk pertama kalinya. BYD yang merilis laporan kuartal ketiganya pada Rabu (30/10), yang menunjukan pendapatan operasional sebesar ¥ 201,1 miliar atau USD 28,2 miliar pada kuartal ketiga 2024, peningkatan tahun-ke-tahun sebesar 24%, melampaui pendapatan Tesla sebesar USD 25,2 miliar pada periode yang sama.
Laba bersih BYD dalam sembilan bulan pertama 2024 sebesar ¥ 25,24 miliar, naik 18,1% tahun-ke-tahun. Sementara laba bersih pada kuartal ketiga sebesar ¥ 11,6 miliar, naik 11,5% tahun-ke-tahun. Pada tiga kuartal pertama, perusahaan mencapai laba operasi sebesar ¥ 502,2 miliar, meningkat 18,94% dari tahun ke tahun.
Baca juga >> Bank Indonesia :”Transformasi Digital dan Teknologi Jadi Kunci Untuk Kemajuan Industri Halal”
Data menunjukkan dalam sembilan bulan pertama tahun ini, penjualan kendaraan energi baru BYD mencapai total 2,7479 juta unit, meningkat 32,13%. Dan pada kuartal ketiga tahun ini, BYD menjual sekitar 1,134 juta unit kendaraan baru, melampaui ekspektasi pasar sebesar 1,1 juta unit.
“Daily Economic News” dalam artikel mengenai BYD mengatakan bahwa target penjualan BYD untuk tahun 2024 ditargetkan meningkat sebesar 20% dari 3,024 juta unit kendaraan yang terjual pada tahun 2023, menjadi lebih dari 3,6 juta unit kendaraan.
BYD dan Tesla menjadi ancaman bagi produsen mobil tradisional, terutama Volkswagen AG dan Ford Motor Co., yang menghadapi tantangan profitabilitas dalam transisi mereka ke kendaraan listrik. BYD tidak terlalu rentan terhadap melemahnya permintaan konsumen terhadap kendaraan listrik dibandingkan Tesla, berkat jajaran kendaraan hibridanya yang kuat.
Baca juga >> Kementan Siap Lakukan Pengawalan Investasi untuk Dorong Peningkatan Produksi Daging dan Susu
Kendaraan hibrida telah memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan pendapatan BYD, dengan beberapa model menawarkan jangkauan mesin yang bisa mencapai lebih dari 2.000 kilometer. Keuntungan utama lainnya bagi BYD adalah rantai pasokannya yang terintegrasi secara vertikal, yang memberikan keuntungan biaya dan skala bagi produsen mobil dengan memproduksi lebih banyak suku cadang secara internal, sehingga harga mobilnya lebih terjangkau.
BYD juga diuntungkan oleh pemulihan permintaan domestik di Tiongkok, berkat kebijakan stimulus seperti program tukar tambah. Penjualan lokal tersebut telah membantu BYD meredam dari hambatan di luar negeri.
Sementara terkait putusan akhir Komisi Eropa akhir tentang penyelidikan anti-subsidi terhadap kendaraan listrik Tiongkok yang dirilis pada Selasa (29/10), dan memutuskan untuk mengenakan tarif tambahan pada kendaraan listrik yang diimpor dari Tiongkok untuk jangka waktu lima tahun, yang secara resmi akan berlaku mulai hari Rabu.
Secara khusus, BYD dikenakan tarif tambahan sebesar 17,0%, Geely Auto dikenakan tarif sebesar 18,8%, dan SAIC Group dikenakan tarif hingga 35,3%. Perusahaan mitra lainnya akan dikenakan tarif sebesar 20,7%, dan tarif Tesla di pabriknya di Tiongkok adalah 7,8%.
Tarif ini merupakan tambahan dari tarif impor mobil standar UE sebesar 10%, yang berarti perusahaan otomotif Tiongkok dikenakan tarif hingga 45,3% di Eropa.
redaksi@jurnalbisnis.com

