Jadi Mesin Ekonomi Baru, Pemerintah Dorong Industri AI dan Semikonduktor
SIARAN PERS – Pemerintah Indonesia tengah mendorong mesin ekonomi baru untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional menuju visi Indonesia Emas 2045 yang bertujuan untuk meningkatkan Pendapatan Nasional Bruto (GNI) per kapita hingga USD 30.300, salah satunya melalui pengembangan industri semikonduktor dan kecerdasan buatan atau (Artificial Intelligence/AI).
Pengembangan Semikonduktor menjadi tulang punggung untuk mengembangkan teknologi AI yang mumpuni, sehingga langkah strategis ini akan menopang peningkatan produktivitas dan daya saing.
Hubungan simbiosis antara kedua sektor ini menjadi fokus utama dalam seminar bertajuk “Knowledge Sharing and Networking Event Shaping The Future Economy: AI and Semiconductor” yang dilakukan pada 29 September 2024 di Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali.
Pemerintah berupaya menyoroti potensi besar yang dihadirkan oleh sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor dengan tujuan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang perkembangan serta prospek terkini dari dua industri tersebut dengan melibatkan pakar, akademisi, dan pelaku bisnis.
Dalam seminar tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa ekonomi digital Indonesia terbesar di Asia Tenggara dan menduduki peringkat ke-6 secara global dengan jumlah perusahaan rintisan inovatif terbesar.
“Ekosistem yang dinamis ini merupakan bukti kesiapan negara untuk menjadi salah satu negara maju dalam ekonomi digital di dunia dan regional dimana kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor menjadi komponen inti dari strategi tersebut,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.
Ekonomi digital telah menjadi mesin pertumbuhan yang kuat dengan pasar digital yang saat ini bernilai sekitar USD 77 miliar, diperkirakan akan mencapai USD 220–360 miliar pada tahun 2030. AI dan semikonduktor memiliki potensi untuk mendukung berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur hingga jasa.
Pemerintah Indonesia, melalui kebijakan di Kawasan Ekonomi Khusus, telah memberikan fasilitas dan kemudahan bagi perusahaan yang bergerak di sektor ini, termasuk insentif pajak, kemudahan perizinan, dan infrastruktur yang mendukung perkembangan teknologi tinggi.
“Sebagai bagian dari strategi nasional, industri AI dan semikonduktor memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan KEK mendukung pengembangan industri tersebut melalui penawaran berbagai fasilitas dan kemudahan ultimate,” ungkap Rizal Edwin Manansang, Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus dalam kesempatan yang sama.
KEK Indonesia memiliki posisi yang strategis untuk mendukung pengembangan industri-industri ini. Terdapat empat KEK yang siap menjadi pemain kunci di sektor AI dan semikonduktor yaitu KEK Nongsa yang berfokus pada teknologi digital, menawarkan pusat data, lembaga akademik, produksi film dan animasi serta pengembangan perusahaan rintisan teknologi; KEK Singhasari sebagai industri digital, dengan lebih dari 300 pengembang perangkat lunak dan 18 studio animasi dan film. Kawasan ini akan segera menyambut pembukaan cabang King’s College London dengan program Digital Economy; KEK Kendal dengan pengembangan ekosistem Kendaraan Listrik (EV), yang akan memainkan peran penting dalam integrasi AI dan semikonduktor dan KEK Tanjung Sauh yang diposisikan untuk menjadi pusat komponen elektronik seperti semikonduktor, yang secara strategis menghubungkan pasar nasional dan internasional. Kedepannya, KEK Kura Kura Bali juga akan mengembangkan pendidikan berkelanjutan dan sumber daya manusia termasuk di dalamnya sektor AI.
Hubungan erat antara AI dan semikonduktor menjadi faktor kunci dalam mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan kedua industri tersebut melalui kebijakan strategis dan dukungan regulasi, serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku bisnis untuk mendukung potensi Indonesia menjadi pemain utama dalam industri teknologi tinggi di kawasan Asia bahkan dunia.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut diantaranya yakni Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Usaha BUMN, Riset dan Inovasi Kemenko Bidang Perekonomian, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kemenko Bidang Perekonomian, Perwakilan Tsinghua University, Presiden United in Diversity (UID), Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (KADIN), Presiden Direktur, PT Bali Turtle Island Development, Perwakilan Persatuan Insinyur Indonesia, Akademisi, asosiasi industri, serta perwakilan pelaku bisnis perusahaan Tiongkok.
redaksi@jurnalbisnis.com
