LIFE & TRAVEL ~ Tim peneliti Universitas Stanford di California membuat terobosan: Menggunakan model bahasa AI, untuk pertama kalinya membuat virus yang dirancang sepenuhnya di komputer. Keistimewaan virus yang disebut bakteriofag, dirancang khusus untuk melawan bakteri resisten yang tidak dapat diatasi dengan antibiotik. Meski hasil kajian ini belum dipublikasikan, tetapi sudah menimbulkan kehebohan.
“Ini pertama kalinya sistem AI mampu melakukan ini,” kata Brian Hie, ahli biologi di Universitas Stanford di California.
Ketika AI menciptakan virus baru
Model AI di balik pengembangan ini disebut “Evo” dan dikembangkan bersama oleh Universitas Stanford dan organisasi riset nirlaba Arc Institute. Model ini dilatih untuk memahami “bahasa biologi”. Artinya, model ini dapat menganalisis struktur DNA dan protein serta menciptakan desain fungsional baru.
“Sungguh mengesankan kita telah mencapai titik ini,” ujar Anna Poetsch dari Pusat Bioteknologi di Universitas Teknologi Dresden. Ia sendiri bekerja dengan model AI di bidang bioteknologi dan sangat mengenal model AI di balik Evo.
Evo telah menimbulkan kehebohan dengan versi pertamanya pada November 2024 – dengan prediksi akurat tentang susunan genetik virus. Model AI ini sedang dikembangkan oleh Universitas Stanford dan organisasi riset nirlaba Arc Institute.
Model AI memahami bahasa biologi
Melalui pelatihan ekstensif, model ini memahami bahasa biologi, yang memungkinkannya menganalisis dan mendesain ulang DNA dan protein. Hal ini membuka banyak potensi baru bagi bioteknologi dan kedokteran, ujar Anna Poetsch dari TU Dresden, “Semua pertanyaan bioteknologi ini kini dapat dipercepat secara signifikan, dan ini sebenarnya berpotensi menjawab beberapa pertanyaan besar di zaman kita.”
Beberapa virus yang dihasilkan AI dapat melawan patogen bakteri
Studi baru menggunakan bakteriofag membuat virus menginfeksi dan membunuh bakteri, dianggap sebagai alternatif yang menjanjikan dalam memerangi resistensi antibiotik. AI memiliki model spesifik dalam mengembangkan virus baru ini: virus Phi 174, yang termasuk dalam kelompok bakteriofag.
Tujuan percobaan ini adalah merancang virus yang sangat efektif melawan galur bakteri E. coli yang resistan. Hasilnya menjanjikan. Namun, sistemnya belum sepenuhnya efektif: Model AI menghasilkan ribuan cetak biru. Dari ribuan cetak biru, tim peneliti kemudian memilih 302 virus yang menjanjikan dan mengujinya di laboratorium. Jadi, faktor manusia masih diperlukan. Dalam pengujian tersebut, “hanya” 16 virus baru yang meyakinkan.
Studi ini menunjukkan AI tidak hanya dapat menganalisis struktur biologis yang ada, tetapi juga merancang struktur yang benar-benar baru. Hal ini membuka kemungkinan yang sangat besar bagi bioteknologi dan kedokteran. “Kita tidak tahu apa lagi yang tersembunyi di sana,” kata Anna Poetsch. “Namun, dapat diasumsikan AI dapat membantu menemukan lebih banyak daripada yang sudah ada.”
Teknologi baru juga dapat disalahgunakan
Namun disisi lain juga ada risiko. Poetsch memperingatkan pengembangan teknologi ini harus diatur dengan baik. “Peralihan dari virus yang menginfeksi bakteri ke virus yang dapat menginfeksi manusia sudah dekat,” ujarnya. Namun, ia juga menekankan bahaya ini bukanlah hal baru. Produksi DNA sintetis sudah tunduk pada peraturan yang ketat.
“Pada akhirnya, setiap kali muncul rasa takut ada kemungkinan penyalahgunaan, biasanya hal itu tidak terjadi,” Poetsch meyakinkan. “Kebanyakan orang tidak tertarik menghancurkan dunia.”
Yang terpenting, studi ini menunjukkan kemungkinan yang bisa dicapai dan menawarkan gambaran sekilas tentang masa depan bioteknologi. Para ahli yakin hanya masalah waktu sebelum AI dapat merancang tidak hanya virus tetapi juga mikroorganisme bersel tunggal. Kemajuan ini dan lainnya dapat merevolusi bioteknologi dan kedokteran – jika AI membantu mengembangkan cetak biru yang benar-benar baru untuk virus dan organisme kecil.
redaksi@jurnalbisnis.com
