EKBIZ ~ Pasar makanan dan minuman Korea Selatan pada tahun 2026 akan sangat dipengaruhi faktor-faktor makroekonomi global yang berdampak pada perilaku konsumen di sektor makanan dan minuman. Begitu juga dengan kekhawatiran lingkungan, yang menempati peringkat teratas sebagai kekhawatiran global, yang akan sangat terkait dengan kesehatan, ketahanan pangan, dan ekonomi.
Bersamaan dengan itu, kesehatan dan kesejahteraan konsumen menjadi semakin penting, dengan meningkatnya angka obesitas dan memburuknya krisis kesehatan mental di seluruh dunia. Ketidakpastian ekonomi dan lapangan kerja juga merupakan faktor utama yang memengaruhi keputusan konsumen Korea Selatan.
Tren selama setahun terakhir menunjukkan konsumen Korea Selatan terus memprioritaskan rasa, baik untuk minuman beralkohol, minuman non-alkohol, maupun makanan pokok. Konsumsi alkohol di Korea Selatan tetap lebih tinggi daripada rata-rata global, sementara minuman non-alkohol dan minuman panas, terutama formula bebas kafein, semakin populer karena meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan keinginan konsumen untuk mengontrol kebiasaan konsumsi mereka.
Untuk kategori makanan pokok seperti roti, sereal, dan produk susu, rasa dan kenikmatan tetap menjadi pertimbangan utama, meskipun ada konsumen yang memprioritaskan klaim tentang sumber serat dan nilai gizi. Namun, kesegaran, keamanan produk, dan kualitas keseluruhan tetap menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian. Hal yang sama berlaku untuk ikan dan daging, yang dipengaruhi perubahan gaya hidup dan struktur rumah tangga.
Sementara untuk pasar makanan siap saji, bumbu, dan camilan terus tumbuh, didorong permintaan akan kemudahan yang dipadukan dengan kelezatan. Konsumen Korea Selatan memprioritaskan kenikmatan di atas rata-rata global. Namun, tren kesehatan menjadi semakin berpengaruh, terutama klaim tentang pengurangan gula, pengurangan lemak, bahan-bahan alami, serta protein dan bahan fungsional, yang mulai menjadi faktor pendorong dalam keputusan pembelian.
Pasar makanan nabati dan makanan khusus terus berkembang selama tahun lalu, terutama didorong kekhawatiran kesehatan dan masalah lingkungan. Banyak konsumen menyebut kesehatan sebagai alasan utama peningkatan konsumsi susu nabati dan produk alternatif. Sementara, nutrisi olahraga dan makanan fungsional juga mendapat perhatian yang signifikan, dengan konsumen Korea Selatan memberikan nilai yang lebih tinggi pada efektivitas produk daripada rata-rata global.
Perilaku konsumen di toko swalayan, seperti memilih yogurt Yunani, telur rebus, dada ayam, susu kedelai tanpa pemanis, atau produk rendah kalori, mencerminkan konsumen modern yang ingin menjaga kesehatan di tengah keterbatasan waktu, sehingga menghadirkan peluang bisnis lain bagi produsen dan pengecer.
Untuk tahun 2026, pasar makanan dan minuman Korea Selatan diperkirakan akan tetap didorong tren yang berfokus pada rasa, tetapi merek-merek yang kompetitif perlu mengintegrasikan manfaat kesehatan, protein, dan bahan fungsional dengan rasa dan tekstur secara mulus, sambil menawarkan cita rasa baru dan pengalaman bersantap yang berbeda untuk terus menarik konsumen di pasar yang sangat kompetitif ini.
Tren ini membuka peluang baru bagi negara-negara pengekspor makanan, yang memiliki potensi tinggi dalam kategori produk makanan yang selaras dengan tren pasar Korea Selatan. Ini termasuk makanan siap saji berkualitas tinggi, makanan olahan yang terbuat dari bahan alami, minuman kesehatan, produk protein nabati, makanan laut olahan, dan produk makanan yang dapat dikembangkan lebih lanjut dengan nilai jual terkait rasa, keunikan, dan keamanan bahan-bahannya.
Para produsen makanan yang ingin mengekspor produk makanan ke Korea Selatan harus fokus mengembangkan produk dengan penekanan kuat pada rasa, menyesuaikan cita rasa agar sesuai dengan preferensi konsumen Korea. Serta menambahkan info manfaat kesehatan dan mengembangkan kemasan modern untuk meningkatkan daya saing produk makanannya di pasar Korea Selatan.
redaksi@jurnalbisnis.com

