EKBIZ ~ Data dari bea cukai Tiongkok menunjukkan pergeseran impor lada, dengan pembelian dari Indonesia menurun tajam dan Vietnam mencatat peningkatan yang signifikan.
Di wilayah penghasil lada utama di Vietnam, harga tetap stabil dibandingkan sesi sebelumnya. Lada Gia Lai saat ini diperdagangkan sekitar 148.500 VND/kg. Di Kota Ho Chi Minh dan Lam Dong, harga pembelian 149.000 VND/kg. Lada Dak Lak tertinggi secara nasional, di harga 150.000 VND/kg, sementara Lada Dong Nai mencatat harga terendah, sekitar 148.000 VND/kg.
Menurut para analis, pergerakan harga lada di Vietnam yang datar mencerminkan sentimen kehati-hatian pasar setelah periode kenaikan tajam sebelumnya. Baik penjual maupun pedagang menunggu sinyal yang lebih jelas dari perkembangan permintaan dan penawaran ekspor dalam periode mendatang. Dalam jangka pendek, harga lada kemungkinan akan tetap berada dalam kisaran yang sempit sebelum membentuk tren baru.
Di pasar dunia, menurut pembaruan dari Asosiasi Lada Internasional (IPC) pada Selasa (26/01), harga ekspor lada di pasar utama tetap tidak berubah dibandingkan dengan sesi perdagangan sebelumnya. Penawaran dan permintaan global saat ini tidak menghadirkan faktor yang cukup kuat untuk mendorong fluktuasi harga yang signifikan.
Secara spesifik, lada hitam Lampung Indonesia tercatat seharga USD6.641/ton, sedangkan lada putih Muntok tetap di USD9.141/ton. Di Brasil, harga lada stabil di sekitar USD6.100/ton. Pasar Malaysia terus mempertahankan harga lada hitam ASTA di USD9.000/ton dan lada putih ASTA di USD12.200/ton.
Untuk lada Vietnam, harga ekspor tetap tidak berubah hari ini. Harga ekspor lada putih tetap di USD9.350/ton. Harga lada hitam (500 gr/l) mencapai USD6.600/ton, sedangkan varietas 550 gr/l diperdagangkan pada USD6.800/ton, keduanya tidak berubah dari sesi sebelumnya.
Informasi terkini tentang lada
Menurut data dari Bea Cukai Tiongkok, dalam 11 bulan pertama tahun 2025, Tiongkok mengimpor total 7.847 ton lada, senilai USD54,36 juta. Dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024, volume impor menurun sebesar 18,9%, tetapi nilainya meningkat sebesar 5,3%, yang mencerminkan tren kenaikan harga impor rata-rata.
Alasan utamanya berasal dari penurunan tajam impor lada Tiongkok dari Indonesia – pemasok terbesarnya. Secara spesifik, impor lada dari Indonesia menurun sebesar 32,4% dalam volume dan 14,7% dalam nilai, mencapai 3.679 ton, setara dengan USD24,06 juta. Akibatnya, pangsa pasar Indonesia dalam total impor lada Tiongkok turun dari 56,2% menjadi 46,9%.
Sebaliknya, impor lada dari Vietnam meningkat tajam baik dalam volume maupun nilai. Dalam 11 bulan pertama tahun 2025, Tiongkok mengimpor 3.406 ton lada dari Vietnam, meningkat 12,8% dalam volume dan 59,3% dalam nilai, mencapai USD24,57 juta. Akibatnya, pangsa pasar Vietnam meningkat dari 31,2% menjadi 43,4%. Dari segi nilai saja, Vietnam kini telah naik ke posisi teratas dengan pangsa pasar 42,5%, mendekati Indonesia yang sebesar 44,3%.
Pergeseran ini terutama disebabkan harga ekspor rata-rata lada Vietnam ke Tiongkok yang mencapai US$7.212/ton, meningkat 41,3% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 dan jauh lebih tinggi daripada harga Indonesia yang mencapai USD6.540/ton.
Hal ini menunjukkan lada Vietnam semakin diminati pasar Tiongkok, meskipun harganya lebih tinggi dibandingkan dengan banyak pemasok lainnya.
Menurut Asosiasi Lada dan Rempah Vietnam (VPSA), pada tahun 2025, Tiongkok menjadi pasar ekspor lada terbesar kedua Vietnam, dengan volume 19.923 ton (termasuk perdagangan resmi dan tidak resmi), meningkat 88% dibandingkan tahun 2024. Pangsa pasarnya meningkat dari 4,2% menjadi 8,1%, menunjukkan pergeseran yang jelas menuju ekspor resmi dan pasar dengan permintaan tinggi.
redaksi@jurnalbisnis.com

