Saham-saham perusahaan yang tergabung dalam Grup Bakrie terus mendapat tekanan, bahkan PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) yang menjadi andalan utama sudah dua kali terkena suspensi akibat anjloknya harga saham seusai melakukan aksi korporasi reverse stock split.
Bahkan dalam 8 hari perdagangan bursa, sahamnya anjlok dari semula Rp500 per saham menjadi Rp70. Padahal reverse stock atau penggabungan nilai nominal saham dengan rasio 10:1 bertujuan untuk menaikkan harga sahamnya yang selama ini tidur di lantai bursa pada harga Rp50 per lembar.
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengungkapkan, ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan investor, sehingga membuat saham BNBR turun di antaranya pembukuan rugi bersih sejak 2013, ekuitas yang negatif atau defisiensi modal, dan reputasi Grup Bakrie yang hilang di pasar.