Investasi dan Konsumsi Masyarakat Pulih, Investor Tunggu Masa Transisi

Dalam laporan terbarunya mengenai perekonomian Indonesia yang dirilis akhir Juni, Bank Dunia memperkirakan perekonomian akan mempertahankan pertumbuhan yang stabil dalam dua tahun ke depan. Untuk tahun 2024, perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh sebesar 5%, dan pada tahun 2025 dan 2026 diperkirakan tumbuh sebesar 5,1%. 

Sebelumnya, Bank Dunia memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh sebesar 4,9% pada tahun 2024 dan tahun 2025, serta 5% pada tahun 2026. Sasaran pemerintah adalah mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% pada tahun ini dan 5,1% hingga 5,5% pada tahun 2025, dengan pertumbuhan konsumsi  rumah tangga dan investasi sebagai penggerak utama.

Bank Dunia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia akan diuntungkan oleh pulihnya konsumsi masyarakat dan investasi. Belanja rumah tangga selalu menjadi kontributor penting terhadap produk domestik bruto (PDB). Dengan bantuan belanja terkait pemilu, PDB Indonesia tumbuh sebesar 5,11% year-on-year pada kuartal pertama 2024, yang merupakan tingkat pertumbuhan tertinggi pada periode yang sama sejak tahun 2019.

Bank Dunia memperkirakan belanja pemerintah akan terus meningkat, dan proporsi investasi asing langsung dalam PDB akan kembali ke tingkat sebelum epidemi. Wael Mansour, ekonom senior Bank Dunia, mengatakan kebijakan fiskal Indonesia akan membantu menarik investasi dan mengurangi premi risiko. 

Pada kuartal pertama tahun ini, Indonesia mencatatkan investasi sebesar 401,5 triliun rupiah, peningkatan year-on-year sebesar 22,1%, dimana investasi asing langsung mencapai 204,4 triliun rupiah, peningkatan year-on-year sebesar 15,5%.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartato mengatakan fundamental makro ekonomi Indonesia relatif kuat. Dibandingkan dengan negara lain, defisit transaksi berjalan menyumbang 0,64% terhadap PDB, lebih rendah dibandingkan Chile sebesar 4,40% dan India sebesar 3,32%. Perdagangan luar negeri terus mengalami surplus, dan tingkat inflasi tetap berada dalam kisaran target kurang dari 3%. 

Pada saat yang sama, industri manufaktur dan kepercayaan konsumen juga menunjukkan prospek yang baik. Data terkait menunjukkan surplus perdagangan Indonesia mencapai US$2,93 miliar pada bulan Mei, mempertahankan surplus selama 49 bulan berturut-turut.

Meskipun indeks manajer pembelian turun menjadi 50,7 pada bulan Juni, indeks ini masih lebih tinggi dari rata-rata jangka panjang. Pada lima bulan pertama tahun ini, jumlah kumulatif wisatawan mancanegara meningkat sebesar 23,78% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun di saat yang sama, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menghadapi tantangan berat. Laporan Bank Dunia menunjukkan perekonomian akan menghadapi beragam risiko seperti tingginya suku bunga dan konflik geopolitik, yang berpotensi menurunkan ekspor yang telah terkena dampak penurunan harga. Lebih lanjut Mansour mengatakan meski prospek perekonomian stabil, namun risiko yang ada cenderung mengarah ke bawah..

Saat ini suku bunga acuan Bank Indonesia masih berada pada level tinggi yaitu 6,25%, sedangkan suku bunga simpanan dan pinjaman masing-masing sebesar 5,5% dan 7%. 

Menurut Badan Pusat Statistik, dalam lima bulan pertama tahun ini, kumulatif ekspor Indonesia mencapai US$104,25 miliar, turun 3,52% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Diantaranya, ekspor industri pengolahan nonmigas turun 0,63% year-on-year, ekspor produk mineral dan produk lainnya turun 14,90%, serta ekspor produk pertanian, kehutanan, dan perikanan meningkat 5,90%.

Selain itu, data-data yang kurang mendukung perkembangan perekonomian juga semakin meningkat. Hingga bulan Mei tahun ini, penerimaan pajak turun sebesar 8,4% year-on-year, dan penerimaan pajak yang dicapai hanya 36,2% dari target tahunan. 

Penerimaan tarif dan pajak konsumsi baru sebesar 109,1 triliun rupiah, turun 7,8% year-on-year, hanya mencapai 34% dari target yang ditetapkan tahun ini. Berkurangnya pendapatan dan peningkatan pengeluaran menyebabkan defisit anggaran pemerintah sebesar 21,8 triliun rupiah.

Sejak akhir tahun lalu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga berada di bawah 5% selama dua kuartal berturut-turut. Menurut data yang dirilis oleh Bank Indonesia, industri ritel melanjutkan tren kontraksi bulanan sebesar 1% di bulan Mei, indeks kepercayaan konsumen turun dari 127,7 di bulan April menjadi 125,2, dan indeks kondisi perekonomian dan indeks ekspektasi konsumen juga turun dari 119,4 dan 136,0 hingga 115,4 dan 135,0 masing-masing.

Pada saat yang sama, kondisi politik saat ini juga telah meningkatkan ketidakpastian terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Belakangan ini, pemberitaan bahwa pemerintahan baru yang akan mulai menjabat pada Oktober mendatang akan meningkatkan rasio utang untuk mendanai program makan sekolah gratis semakin memperparah pelemahan nilai tukar rupiah. 

Anggaran pemerintah tahun 2025 saat ini sedang dirumuskan dan diharapkan akan diumumkan pada bulan Oktober, dengan menguraikan tujuan ekonomi dan kebijakan fiskal pemerintah yang baru. Dipengaruhi oleh ketidakpastian masa transisi pemerintahan, banyak perusahaan juga terus bersikap hati-hati menunggu dan melihat dalam ekspansi bisnis dan investasi.