METROBIZ ~ Desa Parerejo di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, sudah lama dikenal sebagai Kampung Tempe, karena sebagian besar penduduknya memproduksi tempe. Siapapun yang datang ke rumah-rumah warga akan mencium aroma kedelai rebus yang khas.
Tungku, rebusan kedelai, dan lembaran daun pisang pembungkus tempe selalu menemani aktifitas warga setiap hari. Maka tak heran, tempe menjadi warisan turun temurun yang bukan hanya terbukti menghidupi, tapi juga disukai.
Mukhammad Irfan, salah seorang pengrajin tempe mengaku dalam sehari bisa memproduksi sampai 1 kwintal tempe, yang nantinya dijual tidak hanya dalam bentuk batangan, melainkan juga sudah diolah dan dalam berbagai jenis makanan seperti tempe mendoan, keripik tempe hingga brownies, cookies dan nugget tempe. Tak salah jika per bulan, omset yang dicapainya bisa tembus Rp 50 juta.
“Kalau tempe batangan ya tetap seperti biasanya kita jual ke pasar karena banyak yang menunggu. Tapi sekarang bisa dijadikan olahan seperti keripik tempe, nugget tempe, mendol krispi, brownies dan cookies,” kata Irfan di sela-sela kesibukannya, Senin (19/01).
Sehari-harinya, Irfan bukan hanya memproduksi tempe saja. Tapi berinovasi dengan membuka kelas “Omah Edukasi Tempe”, bagi siapa saja yang ingin tahu lebih jauh tentang tempe.
“Siapapun yang mau ke sini silahkan, akan kami ajari proses membuat tempe sampai jadi beragam olahan berbahan dasar tempe,” singkatnya.
Tempe-tempe buatan Irfan tentu saja laris di pasaran. Bukan hanya enteng di kantong, tapi juga punya rasa yang berkualitas. Untuk satu papan tempe batangan dengan ukuran 23 sentimeter X 35 sentimeter dan berat 2 kg hanya dijual seharga Rp 30 ribu.
Belum lagi tempe kemasan mika yang dihargai Rp 10 ribu, tempe mendoan kemasan isi 6 lapis seharga Rp 6 ribu hingga keripik tempe Rp 70 ribu per 1 kilogram.
“Tempe Parerejo ini beda dengan yang lain, karena rasanya gurih dan empuk dilidah,” terangnya.
Sementara, Camat Purwodadi, Sugiarto menegaskan dalam satu hari, produksi tempe dari sekitar 185 pengrajin tempe di Desa Parerejo mencapai 20 ton. Maka tak salah bahwa perputaran uang dari kegiatan memproduksi tempe per harinya bisa mencapai Rp 200 juta.
“Desa Parerejo ini potensinya luar biasa di bidang produksi tempe. Puluhan tahun bertahan untuk menjaga produksi dan kualitas tempe khas yang banyak disukai semua kalangan,” tegasnya.
redaksi@jurnalbisnis.com

